Tak Ada Percepatan Perbaikan, Petambak Dipasena Usulkan Jalan Nasional Rawajitu Jadi Tol desa

Tol Desa sebuah mimpi masyarakat untuk percepatan pembangunan jalan | Ilustrasi : Vickyko R.P.

Jalan menuju pertambakan Bumi Dipasena dengan rute Simpang Penawar – Rawajitu telah menjadi perbincangan masyarakat Tulang Bawang. Pasalnya jalan berlabel Jalan Nasional Lintas Rawajitu ini kondisinya tidak begitu baik bahan bisa dibilang sangat buruk.

Beberapa proyek pernah dijalankan dalam rangka pembangunan jalan ini, namun hasilnya pun tidak begitu signifikan dan dirasakan banyak masyarakat. Contohnya pengecoran jalan Rawajitu – Pidada yang sudah dianggap wah oleh masyarakat sekitar, namun rupanya proyek itu hanya menghasilkan jalan cor beberapa kilometer saja.

Pembahasan mengenai permasalahan jalan ini kerap kali dilakukan. Mulai dari konsolidasi pimpinan desa, pembahasan tingkat Kabupaten, Provinsi. Bahkan baru-baru ini Nafian Faiz Kepala Kampung Bumi Dipasena Jaya diundang oleh Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) dalam rapat koordinasi bersama beberapa unsur kementerian yang salah satu bahasan pentingnya adalah mengenai infrastruktur Jalan Nasional Rawajitu.

Kondisi Jalan Nasional Lintas Rawajitu setelah diguyur hujan | Foto : Vickyko R.P.

Nafian Faiz mengatakan Terakhir saat bertemu dengan KEIN di jakarta, kami mendapat informasi dari Kementerian PUPR bahwa jalan ini hanya mendapat anggaran kurang lebih 20 Miliyar rupiah pertahun. Sementara kebutuhannya sekitar 500 Miliyar rupiah untuk membuat jalan ini menjadi baik. Artinya kami dan rakyat lainnya di sini harus sabar menunggu dan menikmati kondisi jalan buruk ini lebih dari 25 tahun lagi.

Dari KEIN sendiri mereka mengusulkan dan akan menyampaikan kepada Presiden sebuah gagasan, agar percepatan perbaikan jalan ini bisa dilakukan adalah dengan mengusulkan Bumi Dipasena (wilayah terujung dari Jalan ini) sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) . Awalnya kami optimis dengan usulan dari KEIN dapat mempercepat proses perbaikan jalan di rawajitu. Akan tetapi melihat fakta dan data yang ada dilapangan kami berfikir usulan PSN takkan merubah keadaan atau bahkan hanya usulan sia-sia. Karena dari 245 PSN yang dicanangkan di periode JKW – JK baru 4 PSN yang selesai.

Selain mengkritisi pemerintah, kita juga harus punya pandangan solusi untuk membantu menyelesaikan masalah ini. “Dari latar belakang dan proses panjang terkait perjuangan mendorong percepatan perbaikan kondisi Jalan Nasional Rawajitu ini serta melihat minimnya anggaran negara untuk infrastruktur macam jalan kami ini. Selain mengkritisi pusat, kita juga harus punya pandangan solusi untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Maka muncullah sebuah ide bernama “TOL DESA”,” tambah Nafian.

Bukan hal yang mustahil jika jalan Tol mampu dibangun oleh masyarakat | Foto : google images

Disampaikan juga bahwa sejak 6 beberapa bulan yang lalu kami (P3UW Lampung) mewakili masyarakat di Kecamatan Rawajitu Timur telah berhasil mengkonsolidasi 48 desa di 2 Kabupaten sepanjang jalan Rawajitu untuk bersepakat memperjuangkan percepatan perbaikan jalan ini.

“Kami yakin kalau hanya 500 miliyar rupiah masyarakat dan koorporasi disepanjang jalan lintas Rawajitu mampu kumpulkan dalam waktu singkat. Dan dengan pola bagi hasil seperti yang kami jalankan pada usaha budidaya udang di Bumi Dipasena kami pun meyakini bahwa (BEP) Break Event Poin dari usaha TOL DESA ini kurang dari 4 tahun. Kemudian nanti setelah 25 tahun atau saat negara sudah mampu menganggarkan dana untuk perbaikan jalan ini, negara boleh ambil alih dan membebaskan atau menurunkan tarif untuk kendaraan roda 4 yang melintas,” pungkasnya.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan