Sajak Untuk Bumi Bernama Dipasena

Sajak Untuk Bumi Bernama Dipasena : Ilustrasi : Vickyko R.P.

Tanggal 1 Maret merupakan sebuah tanggal yang penuh kenangan bagi seluruh petambak Dipasena. Pada tangal itulah terjadi tragedi berdarah. Dimana konflik antara pihak Perusahaan (PT. Dipasena Citra Darmaja) dengan petambak udang Dipasena sebagai mitra menelan korban jiwa. Ruswandi (alm), petambak Dipasena adalah korban kebiadaban pimpinan perusahaan yang dahulu pernah berkuasa atas ribuan tambak yang ada di Dipasena.

Namun tragedi berdarah itu adalah awal mula kebangkitan, perlawanan para petambak atas penindasan yang dilakukan pihak perusahaan kepada mitranya, yakni petambak. Pola kemitraan inti plasma yang diterapkan oleh PT. DCD kala itu sudah terendus bau busuknya oleh beberapa tokoh petambak yang ada. Namun hal tersebut segera mendapat tindakan keras oleh perusahaan. Dan lambat laun perlawanan atas ketidak adilan pun memuncak.

Aksi perlawanan petambak mementang perusahaan melalui aksi demonstrasi | Foto : Dokumen Kampung

Bagi beberapa pelaku sejarah Dipasena, ini merupakan sebuah kenangan yang begitu menyayat hati. Tak dapat dipungkiri, ingatan masa lalu itu bisa membuat air mata menetes tak terasa. Hal tersebut tertuang dalam sebuah sajak yang dituliskan oleh petambak Bumi Dipasena Jaya, Arie Suharso dalam tulisannya yang berjudul Sajak Untuk Bumi Bernama Dipasena (mengenang tragedi berdarah, 1 maret 2000).

Dalam tulisannya, ia mengungkapkan realita yang dihadapi oleh ribuan petambak Dipasena. Sebuah perjuangan panjang untuk bebas dari belenggu perusahaan yang menyengsarakan petambak. Ditambah lagi kurangnya perhatian pemerintah pusat atas penderitaan masyarakat di Dipasena. Berikut tulisan Arie Suharso tersebut.

=============================================================================

Bukannya kami tak mau bicara soal korupsi.
Toh semua tau betapa kondangnya kasus BLBI.
Andaipun uang yang hilang kembali.
Belum tentu ada manfaatnya untuk kami.

Pun terlalu pedih cerita penindasan yang kami alami.
Saat negeri ini di bodohi dengan dalih penyelamatan Bank BDNI.

Kami lebih suka bercerita tentang kata ‘mandiri’.
Ya…. Mandiri, kata yang mewarnai program Revitalisasi untuk kami
Yang terus gagal dan tak terawasi sejak reformasi.
Hingga kadang membuat bertanya, apakah kami ini hanya anak tirinya ibu pertiwi ??

Kami berhenti mengadu, membungkam keluh dan kesah serta mulai menata tanah ini dengan tangan kami sendiri.
Ya…. Sendiri, setidaknya sampai hari ini.

Kami beli alat berat dan excavators sendiri,
Ribuan kilo meter kanal dan saluran air kami keruk dengan modal swadaya mandiri,
Puluhan pintu air besar kami perbaiki,
Sistem usaha dan bermitra kami benahi,
Kami bentrok dengan koorporasi bertahun-tahun damainya pun usaha sendiri,
Sertifikat,
Hutang piutang,
Hingga masalah hukum kami selesaikan sendiri.

Ada memang yang bertanya , apa kontribusi penguasa di negeri ini.
Jawabnya, belum ada yang berarti sampai saat ini.
Bahkan kami minta benahi jalan nasional dan jual listrik negara ke kami pun sampai hari ini belum terealisasi.

Bumi Dipasena Jaya, Arie Suharso.

Arie Suharso | Foto : Facebook

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan