Rakor Rutin Perempuan Nelayan Dipasena Dihadiri Tamu dari Jateng dan Jakarta

Kegiatan rakor rutin perempuan nelayan Dipasena | Foto : Vickyko R.P.

Rawajitu Timur – Peran perempuan nelayan yang dalam hal ini adalah istri petambak Bumi Dipasena sangatlah penting. Selain mengurusi urusan rumah tangga, para istri petambak tak jarang juga ikut terjun dalam melakukan pekerjaan suami sebagai petambak. Misalnya melakukan persiapan tambak, menjaga kebersihan tambak, menabur benih, memberi pakan sampai dengan panen udang. Hal ini membuat istri petambak menjadi salah satu pemeran penting dalam usaha budi daya perikanan di Bumi Dipasena.

Kemudian atas dasar persamaan dan solidaritas sesama istri petambak, terbentuklah organisasi yang mempersatukan para istri petambak yakni Barisan Relawan Wanita (BARETA) yang diinisiasi oleh Perhimpunan Petambak Pengusaha Udang Wilayah (P3UW) Lampung dengan didampingi oleh KIARA dan akhirnya bergabung pula dengan organisasi perempuan nelayan nasional yakni PPNI.

Penyampaian materi oleh tamu dari Jakarta pada perempuan nelayan Dipasena : | Foto : Vickyko R.P.

Dalam melakukan aktivitas organisasi, Perempuan nelayan di Bumi Dipasena rutin mengadakan pertemuan dan studi ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri. Dan pada Sabtu 17 Februari perempuan nelayan dari delapan Kampung di Kecamatan Rawajitu Timur yang tergabung dalam organisasi Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) berkumpul di Tanggul Penangkis untuk melakukan rapat koordinasi rutin PPNI.

Bertempat di aula Radio P3UW Lampung rakor dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan dihadiri oleh Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Susan Herawati, Masnuah dari PPNI Demak yang juga merupakan Sekjen PPNI dan beberapa rekan peneliti pergerakan perempuan nelayan dari Jakarta. Dalam kegiatan ini para anggota yang hadir diberikan materi mengenai penguatan organisasi dan solidaritas perempuan.

Bimbim salah satu tamu dari Jakarta pun memberikan materi tentang analisis SWOT. SWOT adalah sebuah akronim dari metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dalam suatu organisasi secara internal.

Sesi tanya jawab pada rakor rutin PPNI | Foto : Vickyko R.P.

Selain perbincangan materi, para perempuan nelayan dipasena juga melakukan perencanaan kegiatan kedepan. Mulai dari kegiatan bisnis yakni produksi makanan khas Dipasena dan kerajinan tangan buatan anggota PPNI sendiri. Bekal dari kegiatan pelatihan pengemasan produk olahan perikanan yang diikuti oleh anggota pun akan diimplementasikan pada kegiatan produksi di Bumi Dipasena. Dalam kesempatan pertemuan ini, Perempuan nelayan juga memamerkan berbagai produk-produk ekonomi olahan perempuan nelayan Dipasena berupa krupuk ikan/udang, olahan makanan ringan dari kulit udang dan kerajinan tangan.

Pada tempat yang sama Siti Kotijah Ketua PPNI Lampung menyampaikan, “Organisasi kita harus tetap kuat, tetap kompak. kita buktikan bahwa kita mampu menunjang pendapatan keluarga dengan produksi kreatif yang kita buat hasil dari ilmu yang didapat dari studi yang telah kita ikuti. Dan untuk para korwil di delapan kampung untukl membagikan ilmunya kepada anggota wilayah. Harapannya, Perempuan Nelayan Berdaulat, Mandiri dan Sejahtera”.

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan