Memaknai Sang Maret di Bumi Dipasena

Memaknai sang Maret di Bumi Dipasena | Banner : Vickyko R.P.

Letupan senjata ditengah kerumunan massa, merubuhkan sesosok jasad anak bangsa di suatu siang yang tak jauh dari bangunan pintu gerbang sebuah wilayah kerajaan penghasil udang.

Dalam sekejap damai yang ada berubah menjadi lautan amarah dan perseteruan yang seakan tak berujung hingga nyawa anak- anak bangsa seolah tak berharga.

Tragedi 1 maret 2000 di bumi pertambakan udang Dipasena, Lampung terus membekas. Meninggalkan kisah duka mendalam yang terus dikenang dan menjadi momentum perjuangan petambak udang untuk bangkit dalam kemandirian.

Setiap tahun ketika sang Maret datang, kita berkumpul untuk mengenang masa-masa kelam yang pernah terlewati. Namun terkadang kita lupa, bahwa tragedi 1 Maret bukan hanya sekedar momen yang penting untuk di peringati. Tapi juga sebagai sebuah pengingat bahwa sistem ekonomi yang buruk selalu berujung pada sebuah kekacauan hingga membuat nyawa menjadi tidak berharga. 1 Maret adalah puncak perseteruan dari sebuah praktek penindasan ekonomi.

Sistem ekonomi yang buruk selalu berujung pada sebuah kekacauan hingga membuat nyawa menjadi tidak berharga | Ilustrasi : Vickyko R.P.

Yang kita lawan hari itu bukanlah sekedar sosok seorang Nursalim yang kini menjadi buronan negara. Yang kita lawan hari itu bukanlah aparat keamanan yang disewa oleh pengusaha. Yang kita lawan hari itu adalah peraturan-peraturan otoriter, sistem kemitraan yang buruk, dan hukum-hukum yang dibeli. Yang kesemuanya demi melindungi kepentingan bisnis dan keuntungan pribadi watak penjajah yang bersembunyi dibalik topeng benama Perusahaan Inti.

Sekali lagi, yang kita lawan hari itu adalah sebuah sistem kerjasama yang buruk, sebuah sistem ekonomi yang meninggalkan nilai-nilai ketuhanan dan rasa kemanusiaan.

Bahkan saat kita mencoba ulangi bermitra kembali di tahun 2007 lalu, dengan sistem yang kurang lebih sama, membuat kita kembali terjatuh dalam kekacauan, perpecahan dan ketidak percayaan yang hingga kini masih tersisa.

Sang Maret kembali hadir ditengah kita tahun ini, mari ingat kembali bahwa masa-masa kelam yang pernah kita lalui adalah sebuah penindasan yang dilahirkan oleh sistem ekonomi yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan dan rasa kemanusiaan.

Membangun sistem ekonomi yang bernilai ketuhanan dan penuh rasa kemanusiaan | Ilustrasi : Vickyko

Mari bersama saudaraku, kita jadikan Maret ini sebagai tonggak keyakinan kita, bahwa takkan mungkin ada kesejahteraan tanpa persatuan membangun sistem ekonomi yang bernilai ketuhanan dan penuh rasa kemanusiaan “EKONOMI KONSTITUSI”

 

 

Ari Suharso

 

 

VRP

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan