Kunjungi Tambak Udang di Ca Mau, Nafian Faiz Minta Pemerintah Indonesia Belajar pada Vietnam

Kunjungan petambak Bumi Dipasena ke Ca Mau, Vietnam dalam rangka study banding budidaya udang | Foto : Nafian Faiz

Organisasi petambak Udang Bumi Dipasena Lampung, Perhimpunan Petambak dan Pengusaha Udang Wilayah (P3UW) Lampung bersama dengan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan Barisan Relawan Wanita (Bareta) Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) melakukan kunjungan ke Provinsi Ca Mau, Vietnam dalam rangka melakukan pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara petambak udang Indonesia dan Vietnam (sharing knowledge and experience between Indonesia and Vietnam shrimp farmer). Kegiatan ini dimulai pada tanggal 5 sampai dengan 7 Maret 2018 dengan jumlah peserta kunjungan 4 orang yakni Nafian Faiz, Aprianto Harmaidi, Ezra Dwi Lestari dan Parid Ridwanuddin.

Forum diskusi bersama dengan organisasi petambak yang ada di Ca Mau, Vietnam | Foto : Nafian Faiz

Nafian Faiz, Ketua P3UW Lampung yang juga sebagai Kepala Kampung Bumi Dipasena Jaya menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan berharga untuk mempelajari berbagai informasi dan best practices yang terdapat di dalam sistem budidaya udang di Vietnam. Salah hal penting yang ia pelajari dalam kegiatan ini adalah keterlibatan aktif Pemerintah Vietnam dalam membangun infrasturktur dasar dalam sistem budidaya udang. “Kami banyak belajar mengenai pentingnya intervensi negara dalam membangun dan memperkuat budidaya udang di Vietnam, khususnya di tambak udang Ca Mau” tuturnya. 2 tahun lalu beberapa petambak Vietnam pernah juga berkunjung ke pertambakan Dipasena dan saat ini giliran kami yang hadir kesana.

Setidaknya ada tiga hal penting yang dicatat oleh Nafian Faiz mengenai pembangunan infrastruktur dasar di Provinsi Ca Mau, Vietnam, yang pertama pembangunan jalan utama yang menghubungkan kawasan pertambakan udang dengan kota-kota utama sehingga mempermudah jalur distribusi pasca panen.  Jalan distribusi yang menghubungkan pusat kota Provinsi Ca Mau ke kawasan pertambakan udang sepanjang 40 Km lebih hanya kami tempuh beberapa menit saja karena kondisi jalan yang sangat bagus dan tak ada lubang satu pun. Inilah yang tidak kami temukan di Indonesia, khususnya provinsi Lampung. Padahal potensi perekonomian di tambak udang Dipasena lebih besar dan akan berkontribusi besar bagi perekonomian nasional jika jalur distribusi dibangun oleh pemerintah,” ungkapnya.

Jalan menuju pertambakan di Ca Mau, Vietnam dibangun oleh Pemerintah setempat sebagai penunjang sarana budidaya | Foto : Nafian Faiz

Kedua, Pemerintah Vietnam telah membangun fasilitas listrik untuk petambak udang di Provinsi Ca Ma dengan sangat baik. Akibatnya, petambak udang mampu melakukan budidaya secara intensif dan super intensif bahkan Hi-Tech, karena didukung oleh suplai listrik yang stabil dan memadai. Ketersediaan suplai listrik sangat penting untuk menunjang budidaya udang yang menguntungkan. “Ini hal kedua yang kami pelajari di Vietnam. Jika Pemerintah Indonesia membangun fasilitas listrik di Bumi Dipasena, saya yakin produksi udang Indonesia akan lebih berdaya saing di dunia internasional,” tutur Nafian.

Ketiga, akses air bersih dan sanitasi telah dibangun dengan baik. Petambak udang yang Provinsi Ca Mau tidak memiliki kesulitan dalam mengakses air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karenanya, mereka sangat produktif dan mampu melakukan produksi dalam skala besar. Hal ini berbeda dengan kondisi Bumi Dipasena dimana petambak udang harus menampung air hujan demi memenuhi kebutuhan air bersih mereka dan hal tersebut telah berlangsung berpuluh-puluh tahun.

Pertambakan udang di Vietnam bukan produsen udang terbesar namun negara ini menduduki 10 besar negara eksportir udang di dunia | Foto : Nafian Faiz

Berdasarkan fakta-fakta ini, Nafian meminta Pemerintah Indonesia untuk belajar dan meniru Pemerintah Vietnam yang sangat serius membangun infrastruktur dasar guna mendukung sistem budidaya udang yang berdaya saing. Bahkan ia menilai, keberpihakan pemerintah Vietnam terhadap petambak udang jauh lebih progresif dibandingkan dengan Pemerintah Indonesia terhadap petambak udang di Dipasena.

Senada dengan itu, Parid Ridwanuddin, Deputi Pengelolaan Pengetahuan KIARA, yang turut mendampingi kunjungan ini menilai bahwa dukungan Pemerintah Vietnam terhadap budidaya udang patut ditiru oleh Pemerintah Indonesia. Pasalnya, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2016, meskipun menjadi produsen udang terbesar di Asia, tapi Indonesia bukanlah negara eksportir udang yang diperhitungkan. “Sebaliknya, Vietnam bukan produsen udang terbesar namun negara ini menduduki 10 besar negara eksportir udang di dunia. Kuncinya adalah political will pemerintah untuk membangun sistem budidaya udang dimulai dari infrastruktur dasar,” tandasnya.

VRP

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan