Ironi Petambak Dipasena : Harga Jual Anjlok, Biaya Produksi Melonjak

BUMI DIPASENA JAYA

Petambak udang di Bumi Dipasena, Kecamatan Rawajitu Timur, Tulangbawang, galau. Hal ini harga udang yang anjlok di pasaran, sementara biaya produksi makin tinggi. Akibatnya, banyak petambak udang tak berani berspekulasi menabur benur udang dengan kepadatan tinggi. Ini untuk mengantisipasi kerugian lebih besar.

Ari Suharso salah satu petambak Bumi Dipasena Jaya mengungkapkan, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar dua bulan ini. Bukan hanya di Lampung dan Indonesia, menurut dia, kondisi serupa terjadi di negara lainnya di Benua Asia. “Se-Asia sih, bukan cuma di Dipasena. Sudah sekitar dua bulan ini,” kata Ari.

Menurut Ari, petambak udang Dipasena hanya berani menebar benur dengan kepadatan rendah.”Kondisi budidaya udang saat ini besar pasak daripada tiang. Udah harga jual rendah, tapi biaya produksinya malah naik,” tutur Ari Suharso” Kamis (07/06). Ini akibat harga pakan naik, BBM (bahan bakar minyak) naik, dan bahan produksi lainnya naik, karena nilai tukar rupiah yang semakin lemah,” imbuhnya.

Petambak udang tak berani berspekulasi menabur benur udang dengan kepadatan tinggi | Foto : Arie S.

Suryadi, Biro Budidaya Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) Lampung, mengungkapkan, kondisi semacam ini sering menimpa para petambak. Namun, menurut dia, kondisi tersebut biasanya datang tidak bersamaan seperti sekarang.

Terlebih menjelang hari raya Idul Fitri, kebutuhan petambak pasti makin meningkat. Kondisi turunnya harga jual udang saat ini membuat para petambak menjerit. Antisipasi tebaran rendah membuat pendapatan juga tidak maksimal. Petambak mensiasati hal tersebut untuk menghindari resiko usaha yang tinggi.

Petambak menyegerakan panen menghindari penurunan harga setiap harinya | Foto : Arie S.

“Biasanya kalau harga pakan naik, harga udang tidak terpengaruh. Tapi kali ini cukup berat, karena tantangannya bersamaan. Harga udang jatuh, sementara harga pakan naik,” kata Suryadi. Ia menambahkan, langkanya BBM jenis solar serta listrik yang tak kunjung masuk ke Bumi Dipasena turut memperburuk kondisi.

“Udang ini komoditas ekspor, tapi hampir semua sarana operasional produksinya bergantung pada barang impor,” tandas Suryadi.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan