Hari Ibu Dan Jalan Rusak

Ilustrasi : Hari Ibu dan Jalan Rusak

Sudah berapa Hari Ibu kita lewati bersama ibu? Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya. Tak dapat disangkal, ibu adalah orang yang pertama kali mencintai kita apa adanya. Bahkan sejak di dalam kandungan pun, ia adalah orang pertama yang tulus menyayangi dan rela mengorbankan jiwa raganya agar anaknya tetap sehat dan selamat sampai nantinya lahir ke dunia.

Setelah anaknya lahir, kasih sayang ibu pun bertambah dimulai dari erangan tangis ketika melihat kita keluar dari rahimnya. Ibu terlihat sangat bahagia seakan-akan ia telah melupakan rasa sakitnya ketika berjuang melawan maut demi melahirkan kita.

Seorang ibu tidak pernah menginginkan hadiah mewah dari anaknya. Bahagianya sang ibu datang dari hal-hal sederhana. Asal anaknya selalu menuruti nasihat dan membalas perlakuannya dengan baik, ia sudah senang. Kesenangan ini kadang tidak terlihat langsung di wajahnya, tetapi terukir dengan indah di hatinya.

Saat ia sedih pun, jarang langsung ia tunjukkan pada anak-anaknya. Seolah-olah ia selalu terlihat bahagia, padahal siapa yang tahu apa yang ia rasakan sebenarnya. Yang jelas, kebahagiaan anaknya adalah kebahagiaan dirinya juga, tak perlu harus sekeras apapun ia lakukan agar anaknya bisa tersenyum.

Tak peduli profesi, tingkat sosial atau usia, seorang ibu tetaplah ibu. Memperingati hari ibu (22/12) ini, seorang pemuda Bumi Dipasena Jaya memiliki kisah serta makna tersendiri mengenai sosok ibu yang dapat menginspirasi orang-orang di luar sana.

Vickyko Romana P. mengisahkan tentang dua orang ibu yang ia temui ketika ia sedang melakukan perjalanan menuju Bumi Dipasena Jaya dari Bandar Lampung. Ibu itu sedang menimbun jalan berlubang dengan menggunakan tanah yang diambil dari sisi jalan. Dengan alat cangkul dan karung sebagai penadah tanahnya, kedua ibu tersebut mencoba meratakan jalanan berlubang. Sambil sesekali mengusap peluh di kening mereka. Peristiwa ini didapati di Jalan Lintas Rawajitu wilayah perkebunan PT. BNIL. Jalan Lintas Rawajitu yang ia ketahui merupakan jalan yang sudah berstatus Nasional. Namun jalan ini bisa dibilang jauh dari kata baik.

Ibu Perkasa Relawan Jalan Rusak

Lalu tanpa ragu Vickyko menghampiri sang ibu. Sesaat kemudian, walaupun pada awalnya ibu itu terlihat bingung, Vickyko berhasil membuat ia menerima kedatangannya dan menjawab beberapa pertanyaan. Percakapan pun terjadi di tepi jalan sambil duduk di gundukan tanah dan ditemani terik matahari.

  • Vickyko : “Permisi Ibu, ibu ngapain kok nimbun-nimbun jalan? Apa di bayar sama pemerintah atau Perusahaan?”, tanyanya penasaran.
  • Ibu : “Yo nggak le, Ibu cuma melas sama supir mobil, ini juga buat penghasilan tambahan”, jawab Ibu perlahan.
  • Vickyko : Suaminya ibu mana?
  • Ibu : Suami di kebon le, dah sakit-sakitan juga.

Ibu yang satunya menghampiri mobil yang lewat sambil menadahkan capil miliknya sebagai wadah jika ada supir mobil yang memberinya uang. Setelah itu ibu pun ikut duduk berbincang bersama. Malah beberapa mobil lewat dan ibu tidak lagi menadahkan capilnya. Beberapa penumpang mobil yang melintas sempat memperhatikan kami di tepi jalan.

  • Vickyko : Tiap hari bu kaya gini ?
  • Ibu : Iya le, mau bagaimana, ekonomi keluarga susah. Kalau suami nggak dibantu yo melas, nngak cukup, ibu bisanya ya cuma gini.
  • Vickyko : Dapat berapa Bu sehari kalau nimbun jalan gini dari supir yang lewat?
  • Ibu : Ya kadang 30 ribu le, itu juga di bagi dua.
  • Vickyko : Ibunya tinggal dimana ? Keluarga gimana Bu?
  • Ibu : Ibu rumahnya di sana, di gubuk le. Kaya gini untuk makan, untuk anak sekolah, anaknya 3. Anak yang 2 SD, yang 1 SMK. Yang SMK kemarin nggak dibagi rapotnya, wong belum bayaran.

Dengan wajah cokelat yang tersirat kelelahan tetapi terlihat ramah, sang ibu bercerita tentang suaminya yang sakit berkepanjangan yang tidak bisa disembuhkan karena mereka tidak mempunyai biaya untuk berobat ke dokter. Ibu bercerita tentang kehidupannya sehari-hari sambil mengusap airmata yang keluar dari matanya. Setiap hari sang ibu berjalan menuju lokasi jalanan yang lubangnya cukup parah. sambil membawa cangkul, karung, tas berisi bekal dan capil dikepalanya sebagai penghalang terik matahari. Dari wajahnya, terlihat sosok yang dengan sangat tegar menjalani kerasnya hidup. Vickyko pun tak tega rasanya melihat sang ibu. Ia bingung ingin mengatakan apa. Spontan ia membisikkan kata-kata untuk menguatkan batin sang ibu.

Setelah lama berbincang, Vickyko pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Ia takut mengurangi waktu kerja ibu-ibu ini. Karena sudah banyak mobil yang lewat dan tidak memberi uang kepada ibu karena ia ajak ngobrol. Tanpa pikir panjang, Vickyko langsung memberikan selembar mata uang untuk kedua ibu tersebut. Raut wajahnya menunjukan kegembiraan yang luar biasa dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Vickyko Bersama Ibu Relawan Jalan Rusak (Foto Sengaja Dibuat Blur)

“Terlepas segala fikiran negatif terhadap para pekerja jalanan ini. Ada yang bilang nggak usah dikasih uang mereka, nanti tuman dan makin menjamur. Tapi disisi lain mereka juga membutuhkan, hanya saja kita tidak mengerti posisi mereka.” papar Vickyko.

Ibu adalah orang yang pertama kali menyayangi kita, tidak peduli seberapa buruk perlakuan kita terhadapnya. Ibu adalah sosok paling tegar yang pernah ada, yang rela mengorbankan apapun demi menghidupi buah hatinya. Se-arogan apapun sosok ibu yang pernah ada, mereka tidak akan mungkin menjebloskan buah hatinya sendiri ke dalam jurang. Ia akan tulus berjuang melindungi sampai kapanpun, demi keselamatan dan kebaikan anaknya.

Dengan segala kerendahan hatinya, ibu adalah sosok pahlawan multitalenta sejati. Ia mampu bekerja, mendidik, dan mengurus apapun sekaligus. Tidak hanya di Hari Ibu, sudah seharusnya kita menganggap spesial dan mencintai ibu kita setiap hari. Karena di dalam setiap kesuksesan yang telah kita peroleh, tidak lupa terdapat peran besar dari usaha dan doa khidmat sang ibu. Jadi, sudahkah kita menyebut nama ibu di dalam setiap panjatan doa hari ini?

Selamat Hari Ibu

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan