Bumkam Bumi Dipasena Jaya, Sarana Kemandirian Ekonomi Petambak

Bumkam Bumi Dipasena Jaya brgerak di bidang budidaya udang dengan pola bagi hasil | Foto : Arie S.

Petambak Bumi Dipasena, termasuk didalamnya warga masyarakat Kampung Bumi Dipasena Jaya adalah petambak yang sebelumnya bekerjasama dengan perusahaaan dalam bidang budidaya udang yang terkenal dengan istilah kemitraan inti-plasma. Petambak sebagai plasma dan perusahaan sebagai intinya. Skema inti-plasma awlanya adalah skema kemitraan yang saling menguntungkang.

Tapi nyatanya tak lebih menjadi praktek penghisapan ekonomi rakyat oleh korporasi besar dengan memanfaatkan dana pinjaman perbankan. Triliuan dana BLBI menjadi masalah dan petambak menanggung hutang tak behujung. Alih-alih kesejahteraan yang didapat, justru praktek perbudakan ekonomi menjadi fakta. Berangkat dan konflik yang berkepanjangan tersebut, dan agar petambak tak terjerumus dalam lobang kenistapaan yang sama.

Berangkat dari pengalaman masa lalu yang getir itu, setelah terhentinya kemitraan inti-plasma tahun 2012 dengan PT. Aruna Wijaya Sakti (AWS), Nafian Faiz yang menjabat sebagai Ketua ormas Petani Tambak Dipasena yakni P3UW (Perhimpunan Petambak dan pengusaha Udang Wilayah) Lampung bersama jajaran pengurusnya mengagas konsep baru sistem kerjasama budidaya yang saling menguntungkan. Dengan tetap mengedepankan rasa kekelurgaan, kebersamaan, kemandirian ekonomi petambak dan memberikan perlindungan keamanan serta kenyamanan investasi para pemodal.

Tabel rincian data Bumkam Bumi Dipasena Jaya | Data : Manajemen Bumkam

Sistem ini sudah di uji coba lebih dari 2 tahun hasilnya luar biasa. Cukup memuaskan dan ini sebuah konsep yang memutar balikan konsep kemitraan masa lalu yang pernah diberlakukan dengan perusahaan. Pada tahun 2016 Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam) Bumi Dipasena Jaya didirikan. Proses legalisasinya dilalui sesui dengan peraturan yang berlaku. Ditunjuklah Ari Suharso sebagai ketua Bumkam. Penunjukan ini bukan tanpa alasan, sebab ia lah yang telah menggawangi uji coba sistem kemitraan baru tersubut.

“Konsep telah di uji cobakan, ketuanya berpengalaman dan masyarakat antusias, kenapa kita tak memulainya dan memayungi dengan Peraturan Kampung dengan badan hukum Bumkam,” begitu Nafian Faiz sebagai Kepala kampung berfikir saat itu. “Saat uji coba sejak 2013 uang pemerintah kampung yang berasal Pendapatan Asli Kampung (PAK) yang bukan dana desa/APBN telah dicemplungin disini. Jadi ini bukan barang baru. Yang baru itu lembaganya yakni Bumkamnya,” Kata Nafian Faiz.

Satu hal yang menarik dari sistem ini adalah tidak mengenal hutang dan tidak ada pinjaman dari bank. Kami menggunankan investasi kerjasama bagi hasil dan petambak yang rugi budiaya dibebaskan dari hutang. Permodalan mayoritas menggunakan permodalan dari petambak itu sendiri. Jadi petembak itu sebagai pekerja atau pelaku usaha  juga sebagai pemodal. Jadi hasil usaha ini hampir semuanya kembali ke masyarakat petambak lagi.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan