Oksigen langka level 4, UKM Pembenuran Sekarat

Aktifitas bongkar muat Benur di Rawajitu Timur.

KALIANDA (Bumidipasenajaya.desa.id):

Pandemi Covid 19 (C19)  belum terkendali, lonjakan masyarakat terinfeksi virus C19 masih tinggi, rumah sakit penuh,  oksigen yang sangat dibutuhkan baik yang di rawat di rumah sakit maupun yang sedang melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) mulai langka.

Pasokan oksigen saat ini tersedot untuk kebutuhan darurat penanganan pasien C19, sehingga oksigen sulit dijumpai di pasaran, kalau toh ada harganya berlipat-lipat, yang lebih parah sudah pun mahal barangnyapun tidak ada terlebih yang kegunaanya bukan untuk orang yang sakit.

Kelangkaan oksigen ini dirasakan secara umum oleh  Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bergerak dalam usaha pembenuran udang vanamei sepanjang pantai Kalianda Lampung Selatan.

Andi Yoga Wibowo salah satu pelaku usaha pembenuran vanamei di Way Urang Kalianda,  menyampaikan kepada bumiipasenajaya.desa.id. Senin (26/07).

“Kelangkaan Oksigen ini sudah 20 hari ini, kami kesulitan pengiriman benur karena tidak ada oksigen”.

Andi menjelaskan bagaimana  oksigen ini digunakan. “Saat benur atau post larva (PL) umur 9 atau 10 hari, harus  dipanen, kemudian benur ini dimasukan dan di packing dalam kantong plastik berisi air dan harus ada tambahan oksigen agar benur tidak stres dan mati. Dengan ada tambahan oksigen, benur akan mampu bertahan sampai dengan 24 Jam, kalau tidak ada oksigen paling lama 4 Jam saja”.

Kelangkaan oksigen ini mengancam pelaku UKM Pembenuran  bisa gulung tikar, sebabnya mereka tidak bisa kirim benur yang jaraknya jauh seperti ke tambak udang Dipasena, Bratasena di pantai timur Tulang Bawang dan Wachyuni Mandiri di Ogan Komering Ilir Sumatra Selatan, padahal itu pasar potensial  penjualan benur vanamei.

Ini simalakama bagi pelaku usaha, kalau benur tidak dipanen biaya operasional akan membengkak sementara kwalitas dan kwantitas benur juga akan menurun, dipanenpun benur tidak bisa didistribusikan karena tidak ada pasokan oksigen.

“Golden Age atau usia terbaik panen benur saat benur umur 8, 9 atau 10 hari selama dalam pembenuran, lebih dari itu benur akan Kanibal dan kurang bagus saat dilakukan penebaran di tambak, sementara kalau dipanen kami rugi karena tak bisa dijual karena tidak ada oksigen atau kalau ada yang jual oksigen pun harga oksigen sudah sangat mahal yang tadinya 100 ribu/tabung sekarang 500 ribu/tabung, atau kami ambil opsi kami tahan untuk tidak dipanen juga ini buat kami bangkrut”. Kata Andi.

Aktivitas bongkar muat barang milik Koperasi P3UW.

Di tempat terpisah Sutikno Widodo,  Pengurus Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah Lampung (P3UWL) bidang Budidaya, menyampaikan. “Sampai saat ini tidak ada kelangkaan pasokan benur, walau ada keterlambatan tapi setiap hari Senin dan Kamis pasokan benur di Dipasena Rawajitu Timur masih relatif lancar”

“Memang kami mendengar tentang kendala yang dihadapi pembenuran yakni kelangkaan oksigen, terlebih pelaku UKM, bahwa mereka kesulitan mendapatkan oksigen.Kami berharap semoga kendala ini segera bisa diatasi, agar dampaknya tidak melabar sampai ke pelaku usaha pembudidaya udang”, pungkas Widodo.

Editor: Irvan /Reporter : Faiz.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan