2 Perspektif Film Tentang Dipasena Diulas Petambak Dalam Diskusi Bedah Film

Nonton bareng dan diskusi bedah film Dipasena | Foto : Vickyko R.P.

Bumi pertambakan Dipasena kerap kali mendapat sorotan. Mulai dari warta kejayaannya, masa konflik dan situasi terkini di Bumi Dipasena. Baru ini, pada 26 Maret 2018, Metro TV dalam program acaranya Melawan Lupa menayangkan sebuah film dokumenter tentang Dipasena bertajuk Bumi Dipasena Revolusi Biru yang Ditinggalkan. Tayangan ini mendapat beberapa tanggapan beragam dari pemirsa petambak, mantan petambak bahkan mantan karyawan perusahaan.

Film yang ditayangkan oleh Metro TV ini mengulas tentang bagaimana Bumi Dipasena berjaya pada masanya. Namun yang terjadi saat ini justru perusahaan besar bekas milik konglomerat Sjamsul Nursalim ini tinggal sebuah nama saja. Marhusin salah satu petambak mengatakan tayangan tersebut hanya sekedar nostalgia saja dan cenderung menggambarkan bahwa perusahaan hadir layaknya dewa penyelamat. Namun hal itu gagal mengambarkan apa yang terjadi hingga berujung ironi.

Lain daripada itu telah dibuat film berjudul Kesadaran Bernama Dipasena. Film ini dibuat atas kerjasama Perhimpunan Petambak Pengusaha Udang Wilayah (P3UW) Lampung dengan Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA) didukung oleh unsur perempuan petambak dalam Barisan Relawan Wanita (BARETA), pemuda Karang Taruna Prana Jaya Bumi Dipasena Jaya dan WATCHDOC selaku pembuat filmnya.

Suasana nonton bareng film Dipasena di gedung eksBestari | Foto : Vickyko R.P.

Film ini berbeda dengan film yang tayang di Metro TV. Film ini dinilai lebih komprehensif. Karena digambarkan fakta-fakta yang terjadi di Bumi Dipasena. Film ini menjawab pertanyaan besar yang muncul dari film dokumenter lansiran Metro TV lalu. Mengapa perusahaan besar seperti Dipasena bisa terpuruk kala itu? Setidaknya film ini sebagai pelengkap informasi tentang Bumi Dipasena.

Melihat dari 2 perspektif berbeda P3UW Lampung bersama dengan KIARA adakan nonton bareng dan diskusi bedah film di Sekretariat P3UW Lampung, Sabtu (31/03). 2 Film dengan versi yang berbeda diputar di hadapan ratusan petambak untuk diulas dalam diskusi.

Nobar dan diskusi bedah film ini diikuti ratusan petambak Bumi Dipasena. Mulai dari petambak, perempuan petambak, pemuda dan anak sekolah. Dalam sambutannya, Wakil Ketua P3UW Lampung, Towilun menyampaikan, “Perbedaan pandangan kedua film tersebut itu sah-sah saja. Tak perlu kita harus perdebatkan mana yang benar mana yang salah. Karena itu hanya membuat keruh suasana yang sedang jernih. Tinggal bagaimana cara pandang kita menilai film-film tersebut,” ujarnya.

Wakil Ketua P3UW Lampung, Towilun menyampaikan pemaparan pada sambutan diskusi | Foto : Vickyko R.P.

Ditempat yang sama, Farid Ridwanuddin dari KIARA menambahkan bahwa film yang kita buat bersama ini lebih komprehensif. “Dalam film ini kita angkat apa yang terjadi di Bumi Dipasena setelah lepas dari perusahaan. Contohnya saja sudah terbentuk pergerakan perempuan juga kepemudaan yang dulu tidak ada pada jaman perusahaan. Kemudian perbandingan perkembangan ekonomi sebelum dan setelah lepas dari perusahaan pun diulas,” kata Farid.

Setelah nonton bareng, para peserta yang hadir diberi kesempatan untuk memberikan argumentasinya pada 2 perspektif film yang diputar. Berbagai pendapat dilontarkan untuk menilai kedua film tersebut. Inti dari pada kegiatan ini sebenarnya adalah bukan untuk mencari kesalahan (antara perusahaan-plasma). Namun lebih kepada pembelajaran. Hal baik apa yang bisa kita ambil dari masa perusahaan, maka kita terapkan. Dan penerapan sistem yang buruk dari perusahaan sudah seharusnya kita buang dan tidak lagi kita gunakan.

Konsentrasi kini adalah bagaimana petambak Bumi Dipasena bisa membangun ekonomi yang merdeka. Bebas dari ekonomi rente dan hutang. Hal itu yang terus diproklamirkan oleh para pejuang ekonom Dipasena saat ini. “Upaya terus dilakukan untuk membawa Bumi Dipasena menuju sentra perikanan nomor 1 di Indonesia dengan target tahun 2030 sebagai penepis angapan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun itu”, tambah Biro Budidaya P3UW, Arie Suharso.

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan